Mengenal Peradaban Kuno Dengan Wisata Di Kampung Naga

Berada di Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menyerupai peradaban berpuluh-puluh tahun lalu, ketika tidak ada penerangan listrik dan alat-alat elekronik modern lainnya.
Pada malam hari, suasana pun sunyi senyap dan gulita. Alat penerangan yang menjadi andalan hanyalah lampu petromaks dan lampu-lampu kecil berbahan bakar minyak tanah.
Saat matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur, ayam terdengar berkokok bersahut-sahutan di antara rumah penduduk. Satu persatu warga desa terlihat keluar rumah dan berjalan santai menuju musala untuk menunaikan ibadah salat subuh.
Dari salah satu rumah penduduk yang memakai konsep rumah panggung yang tidak terlalu tinggi, tampak asap berwarna putih mengepul dari dapur, membuktikan dimulainya acara sehari-hari.
Ketika hari sudah agak siang, kaum laki-laki tampak membawa cangkul untuk mengawali acara mereka sehari-hari sebagai petani, sementara belum dewasa dan kaum ibu lebih banyak melaksanakan pekerjaan domestik di rumah.
Dari kejauhan, perkampungan penduduk terlihat berderet rapi dengan bentuk dan ukuran hampir sama. Atap ijuk berwarna hitam atau rumbia, dinding putih dari bambu atau serat rotan yang dianyam mirip tikar. Di depan perkampungan tersebut, terdapat beberapa kolam ikan yang di masing-masing sudutnya dilengkapi jamban yang dibatasi dinding dari anyaman bambu.
Seperti yang terlihat pada Rabu (13 Juli 2016), yaitu H+5 Idulfitri 2016, suasana tenang tenang di Kampung Naga sangat kontras dengan kondisi di jalan raya antara Tasikmalaya dan Garut yang macet total ketika para pemudik kembali dari kampung halaman masing-masing.
Padahal jarak antara Kampung Naga dengan jalan raya tersebut tidak lebih dari satu kilometer dan hanya dipisahkan oleh bukit dan sungai. Beberapa kali terdengar suara klakson dari kendaraan beroda empat yang pengemudinya stress akhir terjebak kemacetan panjang, dampak dari penyempitan jalan di jalur Nagreg.
Kampung Naga, merupakan sebuah perkampungan adat yang masih tetap memegang teguh adat istiadat leluhur, meskipun berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang modern.
Dalam kehidupannya keseharian mereka masih tetap menjalankan cara-cara mirip leluhur mereka sebelumnya. Lokasi kampung berada di lembah yang subur itu dibatasi oleh dibatasi oleh hutan keramat sebab di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga.
Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Kali Wulan (Ciwulan) dengan air yang bersumber dari Gunung Cikurai di Garut.
Dengan luas hanya 1,5 hektar, kampung tersebut hanya dihuni 302 orang atau 101 kepala keluarga dan jumlah tersebut hanyalah sepuluh persen dari total keturunan Kampung Naga. Darmawan, 52 tahun, salah seorang penduduk yang ditemui, menyampaikan bahwa berdasarkan pemangku adat, luas 1,5 hektar tersebut dihentikan ditambah, sehingga kalau terjadi lonjakan pertumbuhan penduduk, sebagian dari warga harus keluar dari kampung.
“Saya termasuk di antara penduduk Kampung Naga yang harus keluar sehabis berkeluarga dan punya tiga anak. Dengan demikian, jumlah penduduk kampung ini akan tetap terjaga mirip sekarang,” kata Darmawan yang membangun rumah hanya sekitar 200 meter dari lokasi kampung tersebut.
Meski berusaha untuk menjaga adat istiadat peninggalan leluhur, ada satu hal yang tidak sanggup dibendung, yaitu kemajuan teknologi informasi, dalam hal ini penggunaan telepon genggam berbasis android, terutama di kalangan remaja.
“Anak usia Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengan Atas yang bersekolah di luar kampung dan mereka juga punya handphone. Tapi kami sanggup tolerir kalau dipakai untuk hal-hal konkret sebab menyangkut isu yang penting untuk pendidikan mereka,” kata Darmawan yang juga mempunyai seorang anak usia Sekolah Menengah Pertama dan mempunyai telepon genggam.
Selama isu terkini liburan Lebaran, Kampung Naga menjadi pilihan bagi pemudik untuk menyegarkan kembali kondisi badan sehabis berjam-jam tersandera oleh macet total, terutama bagi mereka yang kembali ke arah Bandung dan Jakarta.
Meski hanya untuk sesaat, setidaknya pemudik atau wisatawan akan mencicipi sensasi berada di sebuah kampung yang begitu tenang dan damai, jauh dari hingar bingar kebisingan kota dan kemudian lintas yang menciptakan emosi cepat naik. Keberadaan Kampung Naga sangat gampang dicapai sebab terletak hanya beberapa ratus meter dari jalan raya antara Tasikmalaya dan Garut, sekitar dua kilometer dari SPBU Kecamatan Salawu.
Sebuah pintu gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Kampung Naga” akan segera menyambut pengunjung ketika memasuki area parkir yang cukup luas. Di sekitar daerah parkir tersebut akan dijumpai toko-toko yang menyediakan banyak sekali cendera mata khas Kampung Naga, salah satunya yang menjadi favorit pengunjung yakni alat musik tradisional angklung.
Untuk mencapai Kampung Naga, pengunjung harus menuruni ratusan anak tangga dengan kemiringan sekitar 45 derajat dan jarak sekitar 500 meter, menyusuri jalan kecil pinggir Sungai Ciwulan.
Dari ketinggian di belokan anak tangga itulah, terlihat atap ijuk bubuk kehitaman rumah-rumah penduduk Kampung Naga yang sangat kontras dengan sekelilingnya yang tampak hijau dan subur, menciptakan pengunjung untuk sementara lupa bahwa mereka gres saja mengalami kemacetan yang menciptakan stress.
Yadi, 45 tahun, warga Kampung Naga lainnya menegaskan bahwa sesuai dengan hukum adat dan tradisi yang turun temurun, siapa pun harus patuh, termasuk dalam membangun rumah yang dibangun menghadap utara dan selatan sehingga satu dengan yang lain saling berhadap-hadapan serta saling membelakangi terhadap barisan rumah berikutnya.
Dengan demikian, setiap rumah tidak mempunyai pintu belakang sebab berdasarkan kepercayaan, rezeki yang masuk dari pintu depan akan kembali keluar melalui pintu belakang.
Akibatnya, deretan rumah di kampung tersebut terlihat mirip lorong layaknya pertokoan. Hal unik lainnya, setiap rumah tangga tidak mempunyai perobatan mirip kursi, meja, daerah tidur dan perobatan lainnya. Yang ada hanyalah peralatan memasak yang memakai kayu bakar. Keunikan itulah yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk berkunjung, tidak hanya domestik, tapi juga manca negara.
“We enjoyed visiting your beautiful village and its very nice to see how they live here,” (Kami menikmati kunjungan ke kampung Anda yang indah, dan sangat menyenangkan melihat bagimana mereka hidup di sini) tulis Angela Benedict, turis ajaib dari Cologne dalam buku tamu yang disediakan di balai-balai Kampung Naga.
Meski Kampung Naga tersebut sudah dikenal sebagai salah daerah yang menarik untuk dikunjungi, warga desa tersebut berdasarkan penuturan Darmawan dan Yadi, menolak kalau desa mereka dijadikan daerah wisata.
“Kalau dijadikan daerah wisata, berarti kami akan dijadikan tontonan, yang kami inginkan yakni sebagai tuntunan,” kata Darmawan.
Karena menganggap desa mereka tersebut bukan daerah wisata, maka setiap pengunjung yang tiba yakni tamu dan tidak akan dipungut bayaran di pintu masuk desa itu.
Namun demikian, pengunjung masih tetap sanggup berkontribusi terhadap warga desa dengan membeli cendera mata yang disediakan, berbelanja di warung-warung penduduk, atau membayar jasa pemandu.